Etika Kedokteran / Medical ethics

ETIKA KEDOKTERAN AT AGLEN

HERRY SETYA YUDHA UTAMA

Pengertian secara lughat: Etika berasal dari kata Yunani” ethicos” yang berarti kewajiban moral sehingga mengenal :Apa yang baik dan apa yang jelek  dan Dibuat untuk melindungi hak-hak manusia

Menurut maknawi etika adalah ilmu yang mempelajari sifat umum dari moral dan pilihan moral tertentu yang dibuat oleh individu kaitannya dengan orang lain

Bila dikaitkan dengan profesi:   Adalah suatu aturan, standar atau kode yang mengatur perilaku anggota suatu profesi.

Mengapa  PROFESI DOKTER perlu ada pegangan etika ?

  1. Kemajuan ilmu dan tehnologi menyebabkan pelayanan kesehatan sangat luas garapannya
  2. Tingkat pendidikan konsumen.

Lebih banyak berpendidikan tinggi dan lebih mengetahui tentang kesehatan dan hukum

  1. Kesadaran konsumen yang semakin meningkat terhadap hak-hak pelayanan kesehatan dan peran serta yang semakin meningkat dalam perencanaan pelayanan itu.
  2. Persepsi yang berbeda tentang etik diantara masyarakat dan dokter

USAHA MENCEGAH PELANGGARAN ETIK

-Kegiatan-kegiatan yang melanggar etik dapat dikenai tindakan disipliner

  1. Untuk mencegah dokter supaya tidak melanggar etik, dokter harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang semua peraturan dan pedoman yang terkait dengan aspek etik profesi
  2. Hal tersebut sangat penting karena masalah-masalah etik dapat terjadi disemua jenis organisasi pelayanan kesehatan

SEJARAH  KODE ETIK KEDOKTERAN INTERNASIONAL

  1. Kode etik kedokteran internasional yang berlaku sekarang dirumuskan pada kongres ke 3 persatuan dokter sedunia diLondontahun 1949
  2. Dipergunakan sebagai dasar untuk mengembangkan kode etik Nasional seluruh negara di dunia
  3. Telah beberapa kali mengalami revisi, dan yang terakhir dilakukan pada tahun 1968 pada kongres persatuan dokter sedunia di Sidney

UPAYA KODE ETIK KEDOKTERAN INTERNASIONAL ( KEKI) AGAR SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI

Persatuan kedokteran Dunia telah menerbitkan beberapa deklarasi yang berkaitan dengan isu-isu etik kedokteran

  1. Deklarasi Helsinki, tahun 1964 tentang penelitian kedokteran yang melibatkan manusia sebagai subjek penelitian
  2. Deklarasi Sidney, 1970 dan deklarasi venise tahun 1983 tentang kriteria kematian dan penyakit terminal yang berhubungan dengan transplantasi organ
  3. Deklarasi Oslo tahun 1970 tentang aborsi kehamilan
  4. Deklarasi Munich tahun 1973 tentang pemakaian
  5. Deklarasi Tokyo tahun 1975 tentang pemakaian obat terlarang
  6. Deklarasi Brussel tahun 1985 tentang bayi tabung
  7. DeklarasiMadridtahun 1987 tentang eutanasia dan rekayasa genetik

SEJARAH  KODE ETIK KEDOKTERANINDONESIA

Kode etik kedokteranIndonesia

  1. Pertama kami dirumuskan pada tahun 1969
  2. Dirumuskan berdasarkan KEKI yang telah direvisi pada tahun 1968 melalui kongres ke 22 dari persatuan kedokteran sedunia di Sidney.
  3. Seperti KEKI, kode etik kedokteranIndonesiamengalami beberapa revisi
  4. Revisi terakhir dilakukan pada tahun 1983. Terdiri dari 20 pasal

ISI KODE ETIK KEDOKTERANINDONESIA

  1. Pendahuluan ( 1 pasal)
  2. Kewajiban umum dokter ( 9 pasal)
  3. Kewajiban dokter terhadap pasien/klien ( 5 pasal)
  4. Kewajiban dokter terhadap sejawatnya ( 2 pasal)
  5. Kewajiban dokter terhadap dirinya sendiri ( 2 pasal)
  6. Penutup ( 1 pasal)

PEDOMAN 1

  1. Tujuan utama dari profesi dokter adalah memberikan pelayanan yang manusiawi dan menjunjung tinggi martabat manusia. Dokter harus menjunjung tinggi kepercayaan yang pasien berikan padanya dengan memberikan pelayanan dan pengabdian yang sebaik-baiknya.
  2. Misalnya: Pasien harus diberlakukan dengan cara manusiawi
  3. Semua pasien harus diperlakukan sama
  4. Semua keluhan harus ditanggapi

Pedoman II

Dokter harus selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam ilmu kedokteran dan menggunakan kemampuan profesionalnya untuk pasien dan sejawatnya.

Pengetahuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki: Pengetahuan dan keterampilan kedokteran umum dan kedokteran emergensi

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimilki, dokter harus mengikuti pendidikan berkelanjutan misalnya dengan selalu ikut serta secara aktif dalam setiap pelatihan, kursus, seminar, lokakarya kedokteran atau kesehatan dan yang sejenisnya. Dokter juga harus berperan serta dalam penelitian kedokteran dan kesehatan

PEDOMAN III

Dokter harus melaksanakan pengobatan medis yang sudah terbukti secara ilmiah dan dilarang secara profesional melakukan kerjasama dengan pihak lain yang tidak didasarkan pada prinsip diatas.

a. Pemberian pengobatan harus didasarkan atas indikasi

b. Efek potensiasi dan antagonistik dari obat harus dipertimbangkan sewaktu diberikan secara bersamaan

c. Obat-obatan yang diberikan kepada wanita hamil harus secara hati-hati diperhitungkan

d. Pemberian obat yang tidak sesuai dengan ilmu kedokteran tidak diperbolehkan

PEDOMAN IV

Dokter harus melindungi masyarakat dan profesinya dari prilaku moral dan kemampuan profesional yang tidak tepat. Dokter tidak hanya harus menghormati dan mematuhi peraturan dan perundang-undangan tetapi juga menempatkan harkat dan martabat profesi dokter setinggi-tingginya dan mengikuti ketentuan yang sudah disepakati. Dokter harus memiliki keberanian tanpa ragu-ragu untuk mengungkapkan tindakan sejawatnya yang tidak etis dan melanggar hukum.

  1. Pemeriksaan kepada pasien yang berlainan jenis kelamin
  2. Dokter harus menghindari perbuatan immoral seperti: Melakukan perjinahan, mengakhiri kehamilan, memberikan obat narkotik tanpa indikasi medis dan menyediakan minuman alkohol dan sejenisnya ditempat praktek.

PEDOMAN V

Dokter dapat memilih dan menentukan pasien-pasien yang akan diobatinya. Tetapi, dalam keadaan emergensi, dokter harus dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien sesuai dengan kemampuannya. Bila dokter telah menyetujui untuk mengobati pasien, dokter harus mengobati pasien itu sebaik mungkin sampai pasien itu diperbolehkan pulang. Dokter boleh menghentikan pelayanan medisnya dengan memberi tahu terlebih dahulu kepada pasien yang dirawatnya. Dokter tidak boleh berusaha untuk mendapatkan pasien dengan berbagai cara.

PEDOMAN VI

Dokter tidak boleh melakukan praktek kedokteran dalam situasi yang bisa mengganggu kebebasannya untuk melakukan pengkajian medis  dan untuk memilih pengobatan medis  dalam situasi yang dapat mengurangi kualitas pelayanan medisnya.

PEDOMAN VII

Dalam melaksanakan praktek profesinya, dokter harus membatasi jasa ( bayaran ) profesinya hanya pada pelayanan yang sudah diberikan atau atau yang sudah ditentukan kepada pasien – pasien dibawah pengawasannya. Jasa ( bayaran ) yang diterima oleh dokter harus sesuai dengan pelayanan yang mereka berikan dan juga sesuai juga dengan kemampuan pasien. Dokter dilarang menerima bayaran apapun atau tip dari rujukan pasien. Obat atau suplai alat kedokterran dan sejenisnya dapat diresepkan oleh dokter untuk pasien jika semuanya untuk kepentingan pasien.

PEDOMAN VIII

Bila menghadapi kasus yang sulit atau mempertimbangkan bahwa pelayanan akan lebih baik dila melalui suatu konsultasi, dokter harus melaksanakan konsultasi, jika diminta oleh pasien, dengan dokter lain atau institusi pelayanan kesehatan lainnya.

PEDOMAN IX

Dokter dilarang membuka rahasia pasien. Dokter juga dilarang menceritakan keterbatasan – keterbatasan pasien, kecuali diperlukan di pengadilan atau dianggap penting untuk keselamatan pasien dan kesejahteraan masyarakat.

PEDOMAN X

Cita – cita yang luhur dari profesi dokter mengharuskan dokter mempertanggung jawabkan pelayanannya tidak hanya kepada individu pasien tetapi juga kepada masyarakat. Dokter juga harus berperan secara aktif  dalam kegiatan –kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan individu dan masyarakat

KESIMPULAN

Etik diperlukan dalam sistem pelayanan kesehatan karena masalah etik dapat muncul di semua jenis organisasi pelayanan kesehatan. Dalam profesi kedokteran, etik memberikan standar profesi bagi dokter dalam melakukan praktek medisnya. Standar ini melindungi baik dokter maupun pasien.

About herrysyu

LAHIR DI SUMEDANG 6 NOV 1962 . SD S/D SMA DI SUMEDANG LULUS FK UNPAD TH 87 KA PUSKESMAS LINGE,BINTANG,BUKIT, ACEH TENGAH TH 87-90 ASISTEN AHLI BEDAH RS HASAN SADIKIN TH 90-95 SPESIALIS BEDAH UNPAD/RSHS TH 95 KA BAG/SMF BEDAH RS ARJAWINANGUN CIREBON S/D-SEKARANG DIREKTUR MEDIS RS AL ISLAM BANDUNG PERIODE 2000-2003 DAN 2003-2006 SEKRETARIS I PERSI JABAR 2001-2004 WAKIL KETUA MUKISI JABAR 2002-2005 HUMAS IKABI JABAR S/D SEKARANG TIM PEMBINA /SURVEYOR AKREDITASI RUMAH SAKIT DI DINKES JABAR S/D SEKARANG KOMISI ETIKA DAN HUKUM IDI CAB CIREBON S/D SEKARANG LULUS MAGISTER HUKUM KESEHATAN Soegija pranata 2007

Posted on September 28, 2011, in Hukum Kesehatan / Medical Law, Kedokteran / Medical and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: